KTRINDONESIA.COM – Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai komunis non-penguasa terbesar ketiga di dunia setelah Uni Soviet dan Tiongkok. Tetapi, partai ini akhirnya hancur pada 1965 dan dinyatakan sebagai partai terlarang di Indonesia pada tahun berikutnya.

PKI hancur setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau yang dikenal sebagai G30S PKI. Pada peristiwa ini, sejumlah jenderal TNI gugur menjadi korban.

Dipa Nusantara Aidit atau yang lebih dikenal dengan DN Aidit memimpin pergerakan PKI kala itu. Namanya dikenal luas masyarakat Indonesia pasca-pemberontakan Madiun 1948 dan 1965.

Pada 1952, PKI kembali bangkit dari puing-puing pemberontakan Madiun 1948. PKI kemudian muncul menjadi kekuatan baru pada pemilihan umum 1955.

Dengan menerima Penetapan Presiden Nomor 7 Tahun 1959, partai ini mendapat tempat dalam konstelasi politik baru. Kemudian, dengan menyokong gagasan Nasakom dari Presiden Soekarno, PKI dapat memperkuat kedudukannya.

BACA JUGA  Sandiaga Tegaskan Belum Ada Kepastian Pembukaan Pariwisata Bali untuk Wisman

Sejak saat itu, PKI berusaha menyaingi TNI dengan memanfaatkan dukungan yang diberikan Soekarno untuk menekan pengaruh TNI Angkatan Darat (AD).

Berbagai upaya dilakukan PKI untuk memperoleh dukungan politik dari masyarakat. Beragam slogan disampaikan pemimpin PKI, Aidit, seperti “siapa setuju Nasakom harus setuju Pancasila”.

Berbagai pidato Soekarno dikutip disesuaikan sedemikian rupa sehingga seolah-olah sejalan dengan gagasan dan cita-cita PKI. PKI terus meningkatkan kegiatannya dengan berbagai isu yang memberi citra kepada PKI sebagai partai paling Manipolis dan pendukung Presiden Soekarno yang paling setia.

Pada akhir tahun 1964, PKI disudutkan dengan berita ditemukannya dokumen rahasia milik PKI tentang Resume Program Kegiatan PKI Dewasa ini. Dokumen tersebut menyebutkan bahwa PKI akan melancarkan perebutan kekuasaan.
Namun pimpinan PKI, Aidit, menyangkal dengan berbagai cara dan menyebutnya sebagai dokumen palsu. Peristiwa ini menjadi isu politik besar pada tahun 1964.

BACA JUGA  Kabar Duka, Wakil Bupati Konawe Gusli Topan Sabara Meninggal Dunia

Selain itu, terhadap TNI AD pun, PKI melakukan berbagai upaya dalam rangka mematahkan pembinaan teritorial yang sudah dilakukan oleh TNI AD. Seperti peristiwa Bandar Betsy (Sumatera Utara), Peristiwa Jengkol. Upaya merongrong ini dilakukan melalui radio, pers, dan poster yang menggambarkan setan desa yang harus dibunuh dan dibasmi. Tujuan politik PKI di sini adalah menguasai desa untuk mengepung kota.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here